Tulisan yang mudah dibaca bukan tulisan yang dangkal — itu tulisan yang menghormati waktu pembaca. Kalimat jernih melaju lebih jauh daripada kalimat yang sok pintar. Begini cara menaikkan keterbacaan tanpa kehilangan kedalaman.
Pendekkan kalimat
Tuas terbesar adalah panjang kalimat. Targetkan rata-rata sekitar 15–20 kata, dan variasikan iramanya. Saat sebuah kalimat melewati dua koma, lihat apakah ia ingin jadi dua kalimat.
Utamakan kata sederhana
Tukar kata panjang dan abstrak dengan yang lebih pendek dan konkret bila maknanya sama. Kata sederhana bukan berarti kurang tepat — ia lebih mudah dicerna.
Buang kata pengisi
Hapus frasa basa-basi (“penting untuk dicatat bahwa”), pasangan mubazir, dan kata keterangan yang tak menambah makna. Draf yang lebih ringkas terbaca lebih cepat dan terasa lebih percaya diri.
Ukur, lalu sunting
Skor keterbacaan mengubah perasaan samar jadi angka yang bisa ditindaklanjuti. Tempel drafmu ke pemeriksa keterbacaan untuk melihat Flesch Reading Ease, tingkat kelas, dan porsi kata sulit — lalu pendekkan kalimat dan ganti kata panjang sampai skornya pas untuk audiensmu (sekitar 60–70 untuk pembaca umum). Padukan dengan pemeriksa tata bahasa untuk sapuan akhir yang bersih.
Tulis draf pertama untuk dirimu; sunting tiap draf berikutnya untuk pembacamu.
Didukung AI — harap tinjau hasilnya sebelum digunakan.